How to Make money, website, loose weight, not worry, leather
itu, satu-satunya keluarga yang dekat dengannya. Bahkan seringkali ia
melampiaskan kekesalannya atas keadaan yang kami alami dengan curhat pada Mbak
Ratih. Tak jarang Mbak Ratih memberikan bantuan keuangan untuk anak-anak, dan
dengan bijak ia menasehati kami berdua untuk tetap sabar dan ikhlas
menerima setiap cobaan dari Allah SWT.
Setahun pertama kulewati dengan berbagai upaya hanya
sekedar untuk menutup kebutuhan standart, makan, bayar listrik, air dan
sekolah anak-anak. Itupun seringkali kuperoleh dengan cara ngutang ke beberapa
teman dan keluarga, bahkan ibuku secara diam-diam sering menyisihkan
tabungannya untuk membantu meringankan bebanku. Anissa istriku tidak lagi
menuntutku untuk mencari pekerjaan di kota tempatku bekerja dulu. Memang aku
sempat mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga marketing tapi cuma bertahan dua bulan. Gaji yang kuperoleh tidak mencukupi untuk
menutup biaya hidup keluarga, bahkan yang paling minim sekalipun. Buat apa aku
harus berpisah dengan keluarga untuk bekerja tetapi hasilnya tak bisa menutup
kebutuhan keluarga ? Aku kasihan pada anak-anakku, mereka tampak sangat
bahagia berada di tengah ayah dan ibunya.
Beberapa kali aku mencoba melamar pekerjaan ke
perusahaan lain, berbekal pengalamanku yang sudah lebih 10 tahun di bidang
marketing aku berharap bisa mendapatkan pekerjaan dengan imbalan yang cukup
untuk menafkahi istri dan dua orang anak yang memasuki usia sekolah. Tetapi,
usiaku yang menjelang 40 tahun ternyata tidak semudah yang kubayangkan untuk
mendapat pekerjaan yang layak. Harus memulai lagi dari bawah, tentu dengan
gaji yang minim. Uang pesangon
yang tidak seberapa (karena harus dipotong utang di kantor) jelas makin
menipis karena tidak ada pendapatan lain sementara pengeluaran terus berjalan
normal, bahkan meningkat karena harga barang kebutuhan terus berlomba naik.
Aku semakin panik, apalagi Anissa mungkin juga sudah merasa jenuh dengan
keberadaanku yang setiap hari di rumah. Ia tidak lagi peduli pada pandangan
penuh selidik para tetangga mengapa aku lebih banyak berada di rumah. Ia sudah
mulai ikhlas dan tanpa beban memberikan jawaban kepada mereka bahwa aku sudah
tidak bekerja lagi, aku sudah di PHK dan sekarang sedang mencoba berwiraswasta
back
Setahun pertama kulewati dengan berbagai upaya hanya
sekedar untuk menutup kebutuhan standart, makan, bayar listrik, air dan
sekolah anak-anak. Itupun seringkali kuperoleh dengan cara ngutang ke beberapa
teman dan keluarga, bahkan ibuku secara diam-diam sering menyisihkan
tabungannya untuk membantu meringankan bebanku. Anissa istriku tidak lagi
menuntutku untuk mencari pekerjaan di kota tempatku bekerja dulu. Memang aku
sempat mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga marketing tapi cuma bertahan dua bulan. Gaji yang kuperoleh tidak mencukupi untuk
menutup biaya hidup keluarga, bahkan yang paling minim sekalipun. Buat apa aku
harus berpisah dengan keluarga untuk bekerja tetapi hasilnya tak bisa menutup
kebutuhan keluarga ? Aku kasihan pada anak-anakku, mereka tampak sangat
bahagia berada di tengah ayah dan ibunya.
Beberapa kali aku mencoba melamar pekerjaan ke
perusahaan lain, berbekal pengalamanku yang sudah lebih 10 tahun di bidang
marketing aku berharap bisa mendapatkan pekerjaan dengan imbalan yang cukup
untuk menafkahi istri dan dua orang anak yang memasuki usia sekolah. Tetapi,
usiaku yang menjelang 40 tahun ternyata tidak semudah yang kubayangkan untuk
mendapat pekerjaan yang layak. Harus memulai lagi dari bawah, tentu dengan
gaji yang minim. Uang pesangon
yang tidak seberapa (karena harus dipotong utang di kantor) jelas makin
menipis karena tidak ada pendapatan lain sementara pengeluaran terus berjalan
normal, bahkan meningkat karena harga barang kebutuhan terus berlomba naik.
Aku semakin panik, apalagi Anissa mungkin juga sudah merasa jenuh dengan
keberadaanku yang setiap hari di rumah. Ia tidak lagi peduli pada pandangan
penuh selidik para tetangga mengapa aku lebih banyak berada di rumah. Ia sudah
mulai ikhlas dan tanpa beban memberikan jawaban kepada mereka bahwa aku sudah
tidak bekerja lagi, aku sudah di PHK dan sekarang sedang mencoba berwiraswasta
Mencoba berwiraswasta juga sudah aku lakukan. Mulai dari
berjualan bakso, Beberapa kali aku terganjal karena usialayak sebagai
untuk men karena tuduhan penyelewengan uang perusahaan, aku benar-benar
limbung. Tuduhan itu sangat menyakitkan, karena memang aku tak pernah merasa
memakai uang itu. Apalagi aku di PHK tanpa pesangon yang memadai, bahkan
setelah diperhitungkan dengan uang yang harus kupertanggungjawabkan, ternyata
hanya tersisa beberapa ratus ribu rupiah saja.
Ah, sepuluh tahun lebih aku mengabdi di perusahaan itu
seolah tak ada artinya. Tenaga dan fikiran yang benar-benar kucurahkan hanya
untuk kemajuan perusahaan, waktu bersama keluarga yang lebih banyak tersita
untuk urusan perusahaan, merupakan pengorbanan yang sia-sia.
“Annisa,
aku bukan suami yang baik, aku bukan suami ideal, aku bukan ayah yang
bertanggung jawab untuk anak-anak, maafkan aku”, bisikku pada diri sendiri
sambil terus memandangi kegelapan malam.. “Dimanakah kau istriku? Apakah
Astrid dan Adrian baik-baik saja ? Si bungsu Adrian kemarin agak demam, apa
dia tidak menanyakan ayahnya ?”, aku sangat khawatir keadaan mereka. Aku
menduga Annisa pasti ke rumah
kakak sulungnya yang kebetulan tinggal sekota dengan kami. Tidak mungkin ia
pulang ke rumah orangtuanya yang jauh di luar kota, hanya dengan anak-anak.
Anissa selama ini Selain dia tidak pernah pulang tanpa Dia memang sering
bertandang ke rumah kakaknya
how to tie a
tie
Worry
And Imagery
Worry
And Self Talk
How
To Tie A Tie Easy ( the four-in-hand knot )
How
to Tie a Neck Tie ( The Windsor Knot )
How
to Tie a Neck Tie ( The Half-Windsor Knot )
leather
How to create a website
make extra money
from home
how not to worry
JOIN
AFFILIATE PROGRAMS TO MAKE MONEY ONLINE
How
to make a website
HOW
TO MAKE A FREE WEBSITE EASY AND FAST
excel
Mencoba berwiraswasta juga sudah aku lakukan. Mulai dari
berjualan bakso, Beberapa kali aku terganjal karena usialayak sebagai
untuk men karena tuduhan penyelewengan uang perusahaan, aku benar-benar
limbung. Tuduhan itu sangat menyakitkan, karena memang aku tak pernah merasa
memakai uang itu. Apalagi aku di PHK tanpa pesangon yang memadai, bahkan setelah
diperhitungkan dengan uang yang harus kupertanggungjawabkan, ternyata hanya
tersisa beberapa ratus ribu rupiah saja.
Ah, sepuluh tahun lebih aku mengabdi di perusahaan itu
seolah tak ada artinya. Tenaga dan fikiran yang benar-benar kucurahkan hanya
untuk kemajuan perusahaan, waktu bersama keluarga yang lebih banyak tersita
untuk urusan perusahaan, merupakan pengorbanan yang sia-sia.
“Annisa,
aku bukan suami yang baik, aku bukan suami ideal, aku bukan ayah yang
bertanggung jawab untuk anak-anak, maafkan aku”, bisikku pada diri sendiri
sambil terus memandangi kegelapan malam.. “Dimanakah kau istriku? Apakah
Astrid dan Adrian baik-baik saja ? Si bungsu Adrian kemarin agak demam, apa dia
tidak menanyakan ayahnya ?”, aku sangat khawatir keadaan mereka. Aku menduga Annisa
pasti ke rumah kakak sulungnya yang kebetulan tinggal sekota dengan kami. Tidak
mungkin ia pulang ke rumah orangtuanya yang jauh di luar kota, hanya dengan
anak-anak. Anissa selama ini Selain dia tidak pernah pulang tanpa Dia memang
sering bertandang ke rumah kakaknyaMencoba berwiraswasta juga sudah aku
lakukan. Mulai dari berjualan bakso, Beberapa kali aku terganjal karena
usialayak sebagai untuk men karena tuduhan penyelewengan uang perusahaan, aku benar-benar
limbung. Tuduhan itu sangat menyakitkan, karena memang aku tak pernah merasa
memakai uang itu. Apalagi aku di PHK tanpa pesangon yang memadai, bahkan setelah
diperhitungkan dengan uang yang harus kupertanggungjawabkan, ternyata hanya
tersisa beberapa ratus ribu rupiah saja.
Ah, sepuluh tahun lebih aku mengabdi di perusahaan itu
seolah tak ada artinya. Tenaga dan fikiran yang benar-benar kucurahkan hanya
untuk kemajuan perusahaan, waktu bersama keluarga yang lebih banyak tersita
untuk urusan perusahaan, merupakan pengorbanan yang sia-sia.
“Annisa,
aku bukan suami yang baik, aku bukan suami ideal, aku bukan ayah yang
bertanggung jawab untuk anak-anak, maafkan aku”, bisikku pada diri sendiri
sambil terus memandangi kegelapan malam.. “Dimanakah kau istriku? Apakah
Astrid dan Adrian baik-baik saja ? Si bungsu Adrian kemarin agak demam, apa dia
tidak menanyakan ayahnya ?”, aku sangat khawatir keadaan mereka. Aku menduga Annisa
pasti ke rumah kakak sulungnya yang kebetulan tinggal sekota dengan kami. Tidak
mungkin ia pulang ke rumah orangtuanya yang jauh di luar kota, hanya dengan
anak-anak. Anissa selama ini Selain dia tidak pernah pulang tanpa Dia memang
sering bertandang ke rumah kakaknya