| SIMULASI | |||||||||
| 50,000.00 | 60,000.00 | 70,000.00 | 80,000.00 | 90,000.00 | 100,000.00 | 110,000.00 | 120,000.00 | ||
| JUAL | 568,750,000.00 | 682,500,000.00 | 796,250,000.00 | 910,000,000.00 | 1,023,750,000.00 | 1,137,500,000.00 | 1,251,250,000.00 | 1,365,000,000.00 | |
| V | 312.72 | 15,635,974.55 | 18,763,169.46 | 21,890,364.37 | 25,017,559.28 | 28,144,754.19 | 31,271,949.10 | 34,399,144.01 | 37,526,338.92 |
| KULIT | 5,250.00 | 262,500,000.00 | 315,000,000.00 | 367,500,000.00 | 420,000,000.00 | 472,500,000.00 | 525,000,000.00 | 577,500,000.00 | 630,000,000.00 |
| KIMIA | 1,700.00 | 85,000,000.00 | 102,000,000.00 | 119,000,000.00 | 136,000,000.00 | 153,000,000.00 | 170,000,000.00 | 187,000,000.00 | 204,000,000.00 |
| F | 315,699,052.66 | 315,699,052.66 | 315,699,052.66 | 315,699,052.66 | 315,699,052.66 | 315,699,052.66 | 315,699,052.66 | 315,699,052.66 | |
| BY OP | 678,835,027.21 | 751,462,222.12 | 824,089,417.03 | 896,716,611.94 | 969,343,806.85 | 1,041,971,001.76 | 1,114,598,196.67 | 1,187,225,391.58 | |
| CASH IN | (110,085,027.21) | (68,962,222.12) | (27,839,417.03) | 13,283,388.06 | 54,406,193.15 | 95,528,998.24 | 136,651,803.33 | 177,774,608.42 | |
| F NC | 39,644,670.63 | 39,644,670.63 | 39,644,670.63 | 39,644,670.63 | 39,644,670.63 | 39,644,670.63 | 39,644,670.63 | 39,644,670.63 | |
| R/L | (149,729,697.84) | (108,606,892.75) | (67,484,087.66) | (26,361,282.57) | 14,761,522.52 | 55,884,327.61 | 97,007,132.70 | 138,129,937.79 |
Malam semakin pekat ketika untuk kesekian kalinya aku membuka pintu depan rumahku, mengharap sedikit semilir angin menerpa hatiku yang terus gelisah, dan tentu saja aku juga berharap ada bayangan istri dan kedua anakku di luar sana. Sejak siang tadi, Anissa pergi meninggalkan rumah, mengajak serta dua buah hati kami Astrid dan Adrian. Ia memutuskan pergi dari rumah dan tidak menyatakan kemana tujuannya, setelah terlibat pertengkaran denganku sejak malam sebelumnya.
Bukan kali ini saja sebenarnya kami bertengkar, tetapi Anissa selalu mengakhirinya dengan tangisan kecil dan kamipun saling menyatakan maaf akibat kekhilafan masing-masing. Kami menyadari bahwa riak-riak dalam menjalankan bahtera rumahtangga adalah hal yang wajar sepanjang kami dapat menyikapinya dengan arif. Tetapi, sejak petaka itu datang menghampiriku empat tahun lalu, aku merasa sangat mudah marah terhadap Anissa, dan pertengkaranpun sangat gampang tersulut.
Entahlah, apakah aku yang merasa lebih sensitive akibat kehilangan pekerjaan setelah di PHK dari perusahaan yang selama ini menjadi tumpuan harapan kami sekeluarga, atau memang Anissa istriku yang kecewa karena aku tidak lagi bekerja dan mendapat penghasilan tetap setiap bulannya untuk menafkahi keluarga.
Sejak aku di PHK secara sepihak oleh perusahaan, terus terang aku jadi limbung. Sebulan pertama aku benar-benar menjadi orang rumahan, pekerjaanku sehari-hari hanya mengantar jemput sulungku yang baru saja masuk SD. Memang satu dua minggu belum begitu terasa, istriku bahkan sangat menikmati keberadaanku di rumah sepanjang hari. Maklumlah, biasanya aku pulang seminggu sekali karena aku bekerja di kota lain, dan kesempatan bersama keluarga sangat terbatas. Tetapi menginjak bulan kedua, Anissa mulai mengarahkanku untuk mencari pekerjaan di kota tempat kami tinggal. Ia mengaku mulai bingung memberikan jawaban atas pertanyaan para tetangga yang seringkali menggodanya dengan pertanyaan-pertanyaan nakal. “ Asyik ya Bu Anis sekarang ditungguin terus, emang Bapak cutinya lama ya Bu? “ Istriku biasanya hanya tersenyum saja menanggapi pertanyaan itu.
“Masak tidak ada temanmu yang mau menolong, mas”, istriku rupanya sudah tidak tahan lagi dengan ketidakpastian penghasilan kami. Pada bulan ketiga, ketika usahaku mencari pekerjaan di kota tempat tinggal kami tidak membawa hasil, ia bahkan menyuruhku kembali saja ke kota tempatku bekerja dulu. Siapa tahu ada teman-teman yang bersimpati dan mau memberikan pertolongan, begitu alasannya. Padahal alasan yang sebenarnya, dia malu sama tetangga yang mulai usil menanyakan apakah aku sudah tidak bekerja lagi, apakah aku kena PHK, apakah aku dipecat karena melakukan kesalahan? “Pulang seminggu sekali seperti biasanya aja, mas”, Anissa memastikan ketika aku memutuskan untuk menuruti keinginannya, kembali ke kota tempatku bekerja dulu, dan kembali ke rumah kos yang menyimpan banyak kenangan. Tapi tentunya aku sudah tidak punya kamar pribadi di rumah kos itu, bukankah aku sudah pamitan pada Ibu kos dan seluruh penghuni rumah kos itu bahwa aku dipindahkan ke luar Jawa. Bagaimana mungkin aku kembali kesana dan berlama-lama tinggal di kamar Andra, teman sekantor yang paling sering kucurhati soal kondisiku pasca di PHK.
How
To Tie A Tie Easy ( the four-in-hand knot )
How
to Tie a Neck Tie ( The Windsor Knot )
How to Tie a Neck Tie ( The Half-Windsor Knot )
JOIN
AFFILIATE PROGRAMS TO MAKE MONEY ONLINE
HOW
TO MAKE A FREE WEBSITE EASY AND FAST
Malam semakin pekat ketika untuk kesekian kalinya aku membuka pintu depan rumahku, mengharap sedikit semilir angin menerpa hatiku yang terus gelisah, dan tentu saja aku juga berharap ada bayangan istri dan kedua anakku di luar sana. Sejak siang tadi, Anissa pergi meninggalkan rumah, mengajak serta dua buah hati kami Astrid dan Adrian. Ia memutuskan pergi dari rumah dan tidak menyatakan kemana tujuannya, setelah terlibat pertengkaran denganku sejak malam sebelumnya.
Bukan kali ini saja sebenarnya kami bertengkar, tetapi Anissa selalu mengakhirinya dengan tangisan kecil dan kamipun saling menyatakan maaf akibat kekhilafan masing-masing. Kami menyadari bahwa riak-riak dalam menjalankan bahtera rumahtangga adalah hal yang wajar sepanjang kami dapat menyikapinya dengan arif. Tetapi, sejak petaka itu datang menghampiriku empat tahun lalu, aku merasa sangat mudah marah terhadap Anissa, dan pertengkaranpun sangat gampang tersulut.
Entahlah, apakah aku yang merasa lebih sensitive akibat kehilangan pekerjaan setelah di PHK dari perusahaan yang selama ini menjadi tumpuan harapan kami sekeluarga, atau memang Anissa istriku yang kecewa karena aku tidak lagi bekerja dan mendapat penghasilan tetap setiap bulannya untuk menafkahi keluarga.
Sejak aku di PHK secara sepihak oleh perusahaan, terus terang aku jadi limbung. Sebulan pertama aku benar-benar menjadi orang rumahan, pekerjaanku sehari-hari hanya mengantar jemput sulungku yang baru saja masuk SD. Memang satu dua minggu belum begitu terasa, istriku bahkan sangat menikmati keberadaanku di rumah sepanjang hari. Maklumlah, biasanya aku pulang seminggu sekali karena aku bekerja di kota lain, dan kesempatan bersama keluarga sangat terbatas. Tetapi menginjak bulan kedua, Anissa mulai mengarahkanku untuk mencari pekerjaan di kota tempat kami tinggal. Ia mengaku mulai bingung memberikan jawaban atas pertanyaan para tetangga yang seringkali menggodanya dengan pertanyaan-pertanyaan nakal. “ Asyik ya Bu Anis sekarang ditungguin terus, emang Bapak cutinya lama ya Bu? “ Istriku biasanya hanya tersenyum saja menanggapi pertanyaan itu.
“Masak tidak ada temanmu yang mau menolong, mas”, istriku rupanya sudah tidak tahan lagi dengan ketidakpastian penghasilan kami. Pada bulan ketiga, ketika usahaku mencari pekerjaan di kota tempat tinggal kami tidak membawa hasil, ia bahkan menyuruhku kembali saja ke kota tempatku bekerja dulu. Siapa tahu ada teman-teman yang bersimpati dan mau memberikan pertolongan, begitu alasannya. Padahal alasan yang sebenarnya, dia malu sama tetangga yang mulai usil menanyakan apakah aku sudah tidak bekerja lagi, apakah aku kena PHK, apakah aku dipecat karena melakukan kesalahan? “Pulang seminggu sekali seperti biasanya aja, mas”, Anissa memastikan ketika aku memutuskan untuk menuruti keinginannya, kembali ke kota tempatku bekerja dulu, dan kembali ke rumah kos yang menyimpan banyak kenangan. Tapi tentunya aku sudah tidak punya kamar pribadi di rumah kos itu, bukankah aku sudah pamitan pada Ibu kos dan seluruh penghuni rumah kos itu bahwa aku dipindahkan ke luar Jawa. Bagaimana mungkin aku kembali kesana dan berlama-lama tinggal di kamar Andra, teman sekantor yang paling sering kucurhati soal kondisiku pasca di PHK.